(Artikel ini merupakan lanjutan dari bagian pertama yg bisa dilihat di list artikel : Saat Serangan Stroke Datang...)
Dokter jaga dan perawat di UGD (Unit Gawat Darurat) sangat cepat melakukan tindakan medis untuk menolong saya. Setelah tubuh saya dibaringkan di bed UGD mereka dengan cepat bertindak, ada yang menggunting pakaian saya, ada memasang selang infus dan oksigen, ada yang menyiapkan peralatan medis, sementara Dokter Umum yang berjaga di UGD berusaha menjaga agar saya tetap sadar sambil bertanya gejala apa yang saya alami dan rasakan serta kapan waktu awal kejadiannya. Karena saya tidak bisa bicara maka komunikasi dilakukan dengan gerakan tangan serta dibantu info dari adik dan tetangga yang mengantar saya.
Kemudian Dokter jaga berkoordinasi dengan Dokter Spesialis Saraf yang juga sudah ada di ruang UGD. Dokter Spesialis Saraf segera memeriksa kondisi saya untuk dapat mendiagnosa dan segera menentukan tindakan medis yang harus dilakukan. Saat itu istri dan anak saya juga sudah tiba di Rumah Sakit. Entah kenapa saat melihat istri, saya merasa sangat sedih dan menitikkan air mata tapi perawat langsung menghibur dan menguatkan saya agar jangan berpikiran negatif, harus tetap tenang dan optimis. Dokter Spesialis Saraf menjelaskan kondisi saya kepada istri dari hasil diagnosa dan tindakan yang harus segera dilakukan.
Sebentar kemudian saya dibawa ke bagian Radiologi dengan segera untuk dilakukan foto / Rontgen Thorax. Setelah itu saya dibawa ke ruang scan MRI untuk memeriksa kondisi kepala / otak. Diagnosa tim medis Rumah Sakit adalah saya terserang Stroke yang kemungkinan disebabkan adanya penyumbatan pembuluh darah di otak. Untuk menguatkan diagnosa dan menentukan tindakan medis lanjutan maka diperlukan hasil scan MRI kepala.
Setelah selesai scan MRI kepala, saya dibawa ke ruang tindakan untuk dilakukan terapi pengobatan dengan metode Trombolisis. Terapi ini merupakan pengobatan yang tujuannya untuk melarutkan sumbatan pada pembuluh darah otak, melancarkan aliran darah sehingga dapat mencegah kerusakan jaringan otak. Pengobatan bagi penderita Stroke Iskemik dapat efektif dengan terapi Trombolisis, tapi harus segera dilakukan pada masa Golden Periode (sekitar 3 ~ 4 jam setelah awal timbulnya gejaala Stroke). Stroke Iskemik adalah jenis penyakit stroke yang disebabkan karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak.
Terapi Trombolisis dilakukan dengan metode katerisasi yang mana sejenis obat pengencer darah dosis kuat langsung disuntikkan ke pembuluh darah arteri melalui kateter. Lalu dengan hati-hati kateter akan menyusup masuk sepanjang arteri sampai ke pembuluh darah otak yang tersumbat hingga mencapai gumpalan darah. Maka seketika itu pula pengencer darah akan melarutkan gumpalan darah tersebut.
Selesai dilakukan terapi Trombolisis, saya dibawa dari ruang tindakan ke ruang perawatan HCU (High Care Unit). Di ruang HCU inilah dimulai proses perawatan, pengobatan sampai proses penyembuhan. Seingat saya untuk 1 pasien HCU diawasi oleh 1 orang perawat yang bergantian menjaga pasien secara shift. Tim Dokter yang bertugas mengontrol kondisi saya ada 3 dokter spesialis dan 1 dokter umum. Ada Dokter Spesialis Saraf, Jantung dan Penyakit Dalam, mereka memerikasa saya pada saat jam visit / kunjungan dokter. Penunggu pasien di ruang HCU tidak boleh masuk ke ruangan di luar jam besuk, jadi istri dan anak saya hanya bisa menunggu di luar ruang perawatan HCU.
Hari pertama dirawat di ruang HCU dan setelah terapi Trombolis, saya masih belum bisa bicara, kepala masih agak pusing dan badan masih lemas. Penglihatan dan pendengaran masih normal. Tapi ada sedikit perbaikan, tangan dan kaki sebelah kanan yang awalnya kaku dan lumpuh perlahan mulai bisa digerakan. Saya yang awalnya merasa sedih karena penyakit yang saya alami ini kemudian mulai optimis dan yakin bahwa saya akan pulih kembali, Insya Allah dengan atas kuasa dan izin Nya. Saya hanya pasrahkan dan berdoa kepada Nya. Di hari pertama itu ada beberapa keluarga dekat yang datang besuk pada sore hari. Saya hanya bisa memandang dan komunikasi dengan bahasa isyarat dibantu istri. Pemberian asupan nutrisi dan obat-obatan banyak dilakukan melalui infus. Ada makanan yang diberikan melalui mulut tapi berupa bubur yang encer agar tidak perlu dikunyah.
Pada hari kedua dirawat di HCU, Alhamdulillah ada beberapa perkembangan yang positif. Walaupun badan masih agak lemas, pusing di kepala sudah mulai hilang. Baiknya lagi mulut saya sudah bisa mengeluarkan suara walaupun terdengar pelo karena gerakan mulut masih kaku. Tangan dan kaki sebelah kanan, selain bisa digerakkan jari-jarinya, juga mulai bisa sedikit diangkat saat badan masih rebahan. Alhamdulillah yaa Allah, hari itu banyak nikmat yang sudah saya terima dari Nya. Terima kasih pula untuk Dokter Spesialis Saraf yang melatih saya untuk bicara dan menggerakkan tangan dan kaki.
Hari itu saya masih full rebahan dan ditunggui dengan setia oleh istri saya walaupun di luar ruang HCU. Sore harinya saya dibawa lagi ke ruang scan MRI untuk memeriksa kondisi kepala / otak untuk mengetahui perkembangan kondisi pembuluh darah di otak setelah terapi Trombolisis yang dilakukan kemarin. Alhamdulillah, menurut Dokter Spesialis Saraf hasil scan MRI ke dua ini menunjukkan hasil yang baik. Penyumbatan pembuluh darah otak yang kemarin tampak dominan, ternyata pada scan ke dua ini tampak banyak berkurang walaupun tidak bisa hilang semuanya 100%.
Penjelasan lanjut mengenai proses perawatan, rehabilitasi medis / fisioterapi dan proses pemulihan akan dijelaskan pada bagian 3 artikel ini. (hhh)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar